BREAKING
Showing posts with label Psikolog. Show all posts
Showing posts with label Psikolog. Show all posts

Sunday, September 27, 2015

Atasi Stres


Stres seringkali menghantui kehidupan manusia. Perasaan depresi, tertekan, takut, dan lainnya bercampur menjadi satu dan membuat diri seseorang merasa sangat tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu akhirnya mengganggu segala aktivitas yang akan atau sedang dilakukannya, sehingga konsentrasi dan kefokusan pun menjadi hilang.
Penyebab dari stres sangatlah bermacam-macam. Mulai dari masalah sekolah, pekerjaan, keluarga, ekonomi, sakit, masalah dengan teman atau pacar, dan bahkan masalah sepele pun terkadang bisa membuat kita stres, salah satunya adalah karena terjebak macet ditengah jalan yang membuat anda tidak bisa berkutik.
Anda yang mengalami masalah dengan beban hidup sehingga mengakibatkan stres, jangan bingung. Ada banyak solusi yang bisa anda pilih dan anda lakukan untuk mengatasinya. Stres bisa anda atasi melakukan suatu hal yang bersifat sederhana, meskipun sederhana jika dilakukan secara rutin akan sangat ampuh mengatasi masalah stres. Berikut 4 hal sederhana yang dapat atasi masalah stres:
 Hal Sederhana untuk Atasi Stres

1. Tidur lebih awal

Anda yang sering begadang, cobalah untuk menghentikan aktivitas-aktivitas yang membuat anda begadang mulai dari sekarang. Perlu anda ketahui, begadang dapat memicu timbulnya stres dengan mudah, ketika anda mengalami masalah yang sepele, anda akan mudah stres. Kurangi aktivitas begadang anda dan tidurlah lebih awal agar pikiran anda bisa lebih tenang dan nyaman. Jika pikiran bisa tenang dan nyaman, anda akan terhindar dari masalah stres. Selain tidur lebih awal, pastikan juga untuk bangun lebih awal dan lakukan itu setiap harinya.

2. Olahraga

Jika anda sedang mengalami masalah stres. Lampiaskanlah stres, bimbang, gelisah, sedih dan lainnya dengan berolahraga, seperti lari-lari pagi, renang, yoga, dan juga olahraga lainnya yang anda suka dan bisa membuat pikiran anda menjadi lebih tenang. Selain pikiran anda yang tenang dan fresh, anda juga akan mendapatkan fisik yang semakin bugar dan sehat.

3. Perbanyak makan sayur dan buah

Mulailah untuk mengkonsumsi sayur dan buah-buahan secara rutin. Sayur dan buah-buahan dapat mengatasi masalah sres dengan baik. Nutrisi yang terkandung didalamnya akan dengan mudah membantu menghilangkan stres. Selain itu, anda juga harus menghindari minum kopi, teh, dan bersoda secara berlebihan. Hal itu bertujuan agar tidak memicu timbulnya stres.

4. Melakukan pijatan

Melakukan pijatan-pijatan dapat membuat tubuh anda terasa lebih rnyaman, tenang, ringan, dan juga rileks. Jika tubuh anda menjadi rileks dan nyaman, pikiran anda pun otomatis akan ikut merasa rileks dan juga tenang secara perlahan. Lakukan pijatan pada bagian leher, tengkuk, kening, tangan, dan juga kaki. Untuk hasil yang lebih memuaskan, gunakan aroma terapi saat pemijatan, agar pikiran anda bisa bertambah tenang dan juga nyaman.
Demikianlah 4 hal sederhana untuk atasi stres. Stres atau beban pikiran yang berlebih dapat membuat kesehatan memburuk. Semoga empat tips diatas dapat mengatasi stres yang anda alami.

Friday, August 28, 2015

Memantapkan Hati Ketika Dihadapkan Pada Pilihan yang Sulit

Sebagai seorang manusia, makhluk yang diciptakan Allah dengan akal dan pikiran, tentu sudah menjadi sebuah hal yang wajar jika saat kita dihadapkan pada pilihan di kehidupan ini, ada rasa ragu atau sedikit bingung. Hal tersebut wajar, karena sebagai manusia, hamba yang tak ada apa-apanya di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, kita tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah pilihan yang akan kita ambil ini benar atau salah. Karena masa depan, memang hanyalah Allah yang tahu.
Namun, bukan berarti saat kita ragu dan bingung kita harus menyerah dan diam begitu saja. Atau juga jangan sampai kita asal memilih langkah tanpa ada pertimbangan matang. Karena semua penyesalan letaknya adalah di belakang. Untuk itu, saat kita sedang dalam keadaan bingung atau ragu dalam mengambil sebuah keputusan, terutama pilihan besar dalam kehidupan kita di masa depan, lakukanlah beberapa hal berikut ini:

1. Shalat Istikharah

Yang pertama jelas adalah menanyakan kepada Allah SWT, Pencipta kita. Dialah yang harus menjadi tempat tujuan pertama dalam setiap apa yang akan kita lakukan. Niatkan dengan tulus bahwa pilihan yang akan kita ambil adalah demi kebaikan di atas jalanNya. Dan menanyakan kepada Allah, adalah dengan cara berdo’a kepadaNya. Memohon petunjuk dan kemantapan hati lewat shalat istikharah.
Shalat Istikharah
Shalat Istikharah 
Shalat istikharah ini berjumlah dua rakaat, di luar shalat wajib dan waktunya tak terbatas siang atau malam. Namun biasanya lebih banyak orang melakukannya di malam hari, terutama di waktu sepertiga malam sebelum atau sesudah shalat tahajud, karena waktu tersebut adalah waktu yang mustajab untuk berdo’a. Yaitu waktu di mana Allah akan memberikan banyak kesempatan untuk mengabulkan permintaan kita.
Shalat istikharah biasanya dilakukan untuk meminta petunjuk dan kemantapan hati dari Allah, atas pilihan yang akan kita ambil dalam kehidupan kita. Biasanya shalat istikharah dilakukan seseorang saat akan melangsungkan pernikahan demi memantapkan pilihannya, atau saat memilih pekerjaan yang akan diambil. Allah akan memberikan petunjukNya kepada kita dengan kemantapan hati kita pada satu pilihan terbaik, dan akan memudahkan jalannya.

2. Meminta Do’a dan Pertimbangan Orangtua

Bagaimanapun juga, Ayah dan Ibu adalah dua orang yang harus kita nomor satukan sebelum siapapun. Terutama dalam meminta restu. Karena restu dan ridho orangtua adalah ridho Allah. Tentunya, jika memang ridho orangtua tersebut adalah demi kebaikan sang anak di jalan Allah.
Meminta Do’a dan Pertimbangan Orangtua
Meminta Do’a dan Pertimbangan Orangtua 
Tentunya pun dalam urusan pilihan hidup sang anak. Orangtua, terutama bagi anak laki-laki, atau anak-anak yang masih lajang dan belum memiliki pasangan, memiliki pertimbangan yang sangat penting.
Maka ketika kita merasa bingung dan ragu akan memilih pilihan yang mana dalam kehidupan kita untuk masa depan yang terbaik, setelah bertanya pada Allah lewat shalat istikharah, jangan lupa kita temui orangtua untuk meminta restu dan pertimbangan dari mereka. Kalau perlu minta kedua orangtua kita untuk juga ikut shalat istikharah dan bertanya kepada Allah. Maka ketika Allah telah ridho dan kedua orangtua juga ridho, maka jalan menuju pilihan yang diambil akan semakin mudah. In shaa Allah.

3. Meminta Nasehat dari Ulama atau Orang yang Paham

Selain orangtua, kita memang perlu mendatangi orang ketiga. Maksudnya adalah orang yang paham, atau bisa juga seorang ulama yang memiliki ilmu agama serta akhlaq yang baik. Dengan meminta pertimbangan atau nasehat dari mereka, maka kita bisa mempertimbangkan langkah, dengan mengambil pengalaman yang baik sebagai contoh dan membuang pengalaman yang buruk.
Meminta Nasehat dari Ulama
Meminta Nasehat dari Ulama 
Kita bisa juga mendatangi teman atau sahabat atau senior yang sudah pernah mengalami permasalahan pilihan seperti yang sedang kita alami, atau ustadz/ah yang kita percaya mampu kita ambil ilmunya. Sekaligus selain meminta pertimbangan dan nasehat, kita juga meminta do’a dari mereka.

4. Menanyakan Pada Hati

Yang terakhir adalah setelah semua ikhtiar atau usaha mencari kemantapan dilakukan, kita tinggal bertanya pada hati kita. Jika memang shalat istikharah kita dilakukan dengan niat yang tulus, orangtua ridho, dan do’a-do’a dari sahabat atau ulama yang kita temui juga sampai pada Allah, maka hati kita akan merasakan kemantapan.
Menanyakan Pada Hati
Menanyakan Pada Hati 
Dan tentunya setelah kemantapan kita dapat, maka tak usah berlama-lama lagi dalam kita melangkah. Segera ambil kesempatan yang ada di depan kita, dan bersegeralah dalam meraih kebaikan. Karena Allah menyukai hambaNya yang bersegera menyongsong kebaikan daripada menunda-nundanya.
Itulah keempat hal yang harus kita lakukan jika kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membuat kita sedikit bingung dan ragu dalam kehidupan ini. Semoga bermanfaat dan apapun pilihan kita, semoga semuanya bermuara pada kebaikan dan syurga Allah. Aamiin.

Sunday, March 23, 2014

Katakan Hal Yang Positif

Positif berlawanan dengan negatif. Negatif tak berarti selalu mendatangkan keburukan, justru terkadang bisa menjadi batu loncatan ke level berikutnya. Misalnya karena kecerobohan seorang mahasiswa maka dia mendapat surat panggilan dari dosen wali. Setelah bertemu dengan dosen walinya dia merasa bersalah lalu kemudian berjanji tidak melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Tidak berkata "Dasar dosen itu" atau "Bodohnya aku." Ingat mulutmu adalah harimaumu. Perkataan negatif kecil saja bisa berdampak pada hidupmu.

Lebih baik berkata dalam hati "Baiklah, aku mengakui telah melakukan kesalahan. Berikutnya aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama." Tahukah kamu hal positif yang sering kamu katakan baik sengaja atau tidak sengaja memperlihatkan seperti apa diri kamu sesungguhnya. Kamu sedang mengukir cerita ke depan yang lebih baik. Mengatakan hal positif kepada hidup seperti memberi energi untuk bertidak dengan hasil yang baik.

Tidak perlu mengatakan hal yang postif tentang dirimu dengan selalu bersuara di depan banyak orang. Saat berkumpul dengan teman di kafe, berkata "Aku selalu di berkati Tuhan loh dan mapan." Kedengaran sombong bukan? Keculi kamu sendang bercanda. Benar kamu harus mengatakan hal positif walaupun sesungguhnya tidak sesuai kenyataan, semakin giat berkata positif berarti masa depan jauh lebih baik. Katakan hanya pada saat yang tepat.

Hari ini mulailah harimu dengan perkataan positif di dalam hati atau doa. "Aku orang yang menarik bisa mengajak orang lain berdiskusi dan tidak gugup bertemu mereka." Saat sedang berhadapan langsung pada situasi tertentu selalu pikirkan hal positif tentang hal tersebut

Monday, March 17, 2014

Cara Hierarchy of Needs Abraham Maslow Melihat Motif Berpuasa Kita


Pernah dengar bahwa ada orang yang berpuasa hanya dapat lapar dan haus saja? Ini adalah level motif berpuasa kita. Bagaimana hierarchy of needs Abraham Maslow melihat motif puasa kita?




Bulan Ramadhan  jadi ingat beberapa artikel yang dulu pernah aku baca.Kalau tidak salah artikel itu judulnya Psikologi Kepribadian. Salah satu isinya adalah tentang Psikologi Humanistik.
Lha kenapa kok inget Psikologi Humanistik pada waktu puasa? Ini semua gara-gara Maslow. Lho kesannya kok dia bersalah atas sebuah tuduhan ya..hehehe. Nah, Maslow kan terkenal dengan hierarchy of need. Ini para motivator atau para ekonom pasti tahu, lebih-lebih yang belajar psikologi, pasti sudah jadi santapan dasarnya.
Hierarchy of need atau hirarki kebutuhan Maslow adalah pelevelan kebutuhan manusia dengan isi dan cara pemenuhan yang berbeda-beda. Perbedaan ini ia levelkan seperti sebuah piramida. Ia juga menyebutnya sebagai piramida kebutuhan.
 Bagaimana Hierarchy of Needs Abraham Maslow Melihat Motif Berpuasa Kita?
Hierarchy of Needs Abraham Maslow (foto: thestamp.umd.edu)
Tetap saja, yang jadi pertanyaan adalah apa hubungannya dengan puasa? Kok jadi ingat teori ini? Ini karena pertanyaan yang sering muncul ketika membahas hirarki kebutuhan ini adalah soal puasa sehubungan dengan kebutuhan dasar pada hirarki Maslow. Bahkan dosenku dulu waktu pelajaran psikolog juga sering menggunakan pertanyaan itu sebagai contoh dalam penjelasannya.
Pertanyaannya adalah, jika makan adalah kebutuhan dasar, bagaimana dengan orang puasa. Kenapa orang puasa yang lapar, kok punya orientasi memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi, padahal makannya saja belum terpenuhi? Katanya orang puasa menjalankan ibadah yang sangat mungkin itu dilandasi oleh spiritualitas atau transendensi, tapi kok laparnya masuk kebutuhan dasar?
Biasanya penjelasan yang berkaitan dengan pertanyaan tersebut langsung ditujukan pada lapar dan makannya, tanpa memahami terlebih dulu bagaimana sifat hierarchy of need Maslow tersebut. Karena itulah beberapa pengajar mengalami kebingungan dengan pertanyaan ini. Kesalahannya adalah pada pemahaman linear pada level kebutuhan tersebut.
Secara linear, sebuah kebutuhan lanjutan baru akan dipenuhi setelah kebutuhan dasar sudah dipuaskan. Misalnya saja kebutuhan makan dan minum. Kebutuhan ini mutlak harus dipenuhi lebih dulu sebelum melanjutkan kepada kebutuhan akan rasa aman, misalnya mempunyai tempat tinggal. Kalau perut sedang lapar atau tak bisa membeli makanan, boro-boro mau mikir kontrak atau beli rumah. Nah, ini yang dikatakan pemahaman linear dalam memenuhi kebutuhan.
Sebenarnya, Maslow membuat hirarki kebutuhannya tersebut dimaksudkan untuk menjelaskan energi penggerak. Orang biasa menyebutnya motivasi. Kalau motivasi adalah sebuah keadaan, maka pendorong terjadinya keadaan tersebut adalah motif. Nah, tiap level kebutuhan tersebut berperan sebagai pendorong, meskipun kebutuhan yang dipenuhi sama. Bahkan mungkin dengan manifestasi perilaku yang sama pula.
Jika tiap level kebutuhan tersebut sebagai motif, maka orang yang makan atau minum bisa jadi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda. Bisa dibilang dilakukan dengan dasar motif yang berbeda.
Coba bedakan antara tiga pertanyaan berikut: 1) apa yang bisa kita makan hari ini? 2) hari ini kita makan apa? 3) kita makan dimana? Tiga pertanyaan ini sudah menunjukkan motif yang berbeda, meskipun ujung-ujungnya makan juga.
Pertanyaan pertama menunjukkan bahwa makan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ketersediaan makanan digunakan untuk menghilangkan rasa lapar. Dorongan ini bersifat instinktif dan bersifat sangat primitif.
Coba bedakan dengan pertanyaan kedua. Pada pertanyaan kedua, sudah ada kesan memilih. Artinya, ketika orang yang bertanya tersebut lapar, ia langsung tertuju pada pilihan-pilihan makanan. Bagian kedua ini sudah ada tarik ulur antara dunia dalam dan dunia luar diri. Mungkin saja ini didasarkan pada kebutuhan akan rasa aman. Misalnya saja orang memilih makanan mana yang bergizi, makanan mana yang sehat dan bebas bahan pengawet dan sebagainya.
Sekarang coba kita lihat pertanyaan yang terakhir. “Mau makan dimana” terlihat paling jelas jika orientasinya justru bukan pada makanannya, tetapi ditekankan pada tempat makannya. Jika yang pertama berorientasi ke dalam, pertanyaan kedua mulai ada dialog dunia luar dan dalam, pertanyaan terakhir ini lebih tertuju pada dunia luar diri. Mungkin saja pilihan jawaban atas pertanyaan tersebut adalah makan di rumah, warteg, cafe, restoran dan sebagainya. Karena itulah, pertanyaan ini boleh jadi menunjukkan motif harga diri. Semakin bergengsi tempat makannya, orang merasa status sosialnya semakin keren.
Begitu juga dengan puasa. Orang puasa bukan berarti stag, tidak bisa memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi dari kebutuhan biologis. Bukan berarti urutannya makannya harus dipenuhi makan dulu baru rasa aman, mencintai dicintai dan seterusnya.
Artinya, puasa itu sendiri bisa saja bentuk dari aktualisasi diri atau wujud dari pengalaman puncak. Bisa jadi dalam puasanya, orang mengalami dirinya yang paling murni, diri yang utuh dan menyatu dengan konteks dimana ia berada. Ini kembali lagi pada niat dan kekhusyukan masing-masing yang menjalaninya.
 Bagaimana Hierarchy of Needs Abraham Maslow Melihat Motif Berpuasa Kita?
Hierarchy of Needs (revised). Sumber Gambar: systemsthinker.com
Sebagai tambahan, kita pasti sudah pernah mendengar taujiah (nasehat) tentang puasa, terutama yang berhubungan tentang level puasa. Ada namanya puasanya orang awam (shoumul awwam), puasanya khusus (shoumul khowash) dan puasa istimewa (shoumul khowashul khowash). Nah itu juga didasarkan pada level motif mana kita berpuasa.
Begitu kira-kira penjelasan atas kebingungan status puasa dalam hierarchy of needs. Nah, puasamu sendiri didasari oleh level kebutuhan yang mana?

Saturday, April 20, 2013

PENYEMBUHAN STRESS DALAM AL-QUR'AN


Stres merupakan masalah yang paling umum dari zaman modern. Stres dipercaya telah berimplikasi dalam penyebab berbagai penyakit, seperti ulkus peptikum, penyakit jantung koroner, depresi, penyakit auto imun, hipertensi, diabetes dan bahkan kanker. Dalam bentuk yang lebih ringan termanifestasi dalam bentuk kerusuhan dan kekerasan, baik di tempat kerja, sekolah dan rumah. Masalah medis umum seperti nyeri kepala akibat ketegangan, insomnia, dan obesitas juga dikaitkan dengan stres yang tidak biasa. Tidak ada dari kita yang bebas dari stres akan tetapi sebagian dari kita dapat menghadapinya lebih baik daripada yang lain.
Dalam pandangan agama Islam, stres merupakan hasil dari faktor-faktor berikut:
  • Takut yang berlebihan dan mencoba melihat dan mengendalikan takdir.
  • Kerugian, bahkan kehilangan orang dan hal-hal yang kita sayangi dalam hidup dan ketidakmampuan kita untuk memulihkan kerugian tersebut.
  • Konflik batin hati dan pikiran antara apa yang dikenal sebagai kebenaran dan kegagalan kita untuk menerimanya sebagai kebenaran. Penerimaan kebenaran mungkin memerlukan perubahan kebiasaan dan cara hidup yang terkadang terasa sulit untuk beberapa alasan, seperti kesenangan, kegembiraan, rasa, kebanggaan ras atau kebangsawanan dll.
Mari kita periksa bagaimana penawaran Quran dengan situasi seperti itu.
Kehilangan adalah uji coba bagi kita:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [al Baqarah/2:155-157]
Jadi dalam Islam, kita tidak memiliki konsep kepemilikan barang dan kehidupan. Semuanya milik Allah dan akan kembali kepadanya. Jadi jika kita tidak mempunyai hak memiliki, lalu mengapa kita meratapi kehilangan?

Takdir kita sudah ditentukan sebelumnya. Kita tidak memiliki kontrol pada bagian takdir itu. Apa yang kita miliki kendali adalah atas kehendak bebas terbatas, yaitu tindakan kita, pilihan kita untuk berbuat baik atau buruk, untuk percaya pada Tuhan atau tidak percaya kepada-Nya, tetapi kita tidak memiliki kontrol atas kejadian besok yang berhubungan dengan tindakan kita, seperti apakah calon istri saya yang akan mendampingi hidup baik suka dan tidak, atau apakah saya akan mengalami kecelakaan atau tidak besok. Mencemaskan atas hal-hal seperti itu tidak ada gunanya.

Penolakan akan kebenaran dalam Quran disebut penyakit. Penyangkalan terhadap kebenaran adalah karena kesombongan.
“Didalam hati mereka [orang-orang munafik] ada penyakit maka Allah tambahkan penyakit ke dalam hati mereka dan bagi mereka ada adzab yang pedih disebabkan kedustaan mereka” (QS. 2:10).

Oleh karena itu setelah berbohong kepada diri sendiri, kita membentuk konflik batin - antara hati dan pikiran. Untuk menghadapi konflik tersebut, pikiran mengirimkan sinyal ke kelenjar untuk sekresi hormon seperti adrenalin yang menyebabkan denyut jantung yang cepat, keringat, dan tremor.
Kemudian Apa yang harus dilakukan dalam keadaan panik dan putus asa? Dalam kepanikan orang yang tidak beriman berperilaku berbeda dari orang yang beriman. Mereka tidak memiliki sesuatu untuk kembali, untuk meminta belas kasihan dan pengampunan. Kehidupan mereka terasa sia-sia, yang jika mereka merasa tidak bisa mengontrolnya, mereka bisa lebih tertekan dan menyebabkan salah pilih langkah. Kemudian kita akan melihat bahwa kebanyakan dari mereka lari pada minuman alkohol dan obat-obatan terlarang, bahkan melakukan tindak kejahatan.
Di sisi lain, seorang mukmin harus melakukan berikut ini untuk mengatasi stress: 
  1. Memperbanyak dzikir (mengingat Allah): “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.”(QS. 13:28)
  2. Meperbanyak sholat dan do’a mereka:[Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar]. (QS. 2:153)
  3. Mintalah pengampunan:“Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun (QS. 71:100)
Selain di atas kita juga diminta untuk terus berjuang untuk terus mengup-grade diri kita sendiri. "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. 13:11).
Singkatnya, dapat disimpulkan bahwa stress merupakan hasil dari kekurangan kedamaian batin karena konflik dalam diri dan menyebabkan gangguan eksternal pada perilaku dan kesehatan. Kedamaian batin hanya dapat dicapai dengan percaya pada Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa, jadi perbanyaklah mengingat dan meminta bantuan dan pengampunan-Nya di saat kesulitan.

Monday, April 15, 2013

Setiap Manusia Berhak Hidup Lebih Baik

Berbicara tentang mimpi,harapan dan cita-cita tentunya tidak akan ada habisnya. Begitu manusia sudah mencapai satu target tertentu, dia pasti mau lebihnya lagi.Dulu sering berpikir demikian ya... Jika punya gaji Rp 1 juta saja,wah..sudah cukuplah, sudah bisa ini, itu.. tapi pada saatnya sudah mendapatkan nilai itu, haha... langsung deh... kayaknya sejuta itu tak seberapa ya.. Jika aja bisa gajiku Rp 2 juta, pasti lebih indah dan demikianlah terus menerus terjadi tanpa ada batas dan titik ujung diri kita sebagai manusia yang tidak pernah puas akan apa yang sudah didapatkannya. Apapun itu!
Dan saat manusia semakin menargetkan diri lebih tinggi, menargetkan kepuasan hidup dan selalu ingin hidup lebih baik dari hari ini atau bahkan hidup lebih baik dari orang lain, ntah itu siapa, saudara, teman main, teman kantor, atau sekedar orang lain kita temui dijalan ( walaupun tidak saling kenal ) tapi rasanya menunjukkan diri dengan memakai barang yang lebih bagus, fashion branded, hape keluaran terbaru, smartphones yang teranyar dibanding orang lain akan membuat kita serasa mempunyai hidup diatas rata-rata. Tidak peduli seberapa susah kita mendapatkannya, seberapa besar beban mental yang harus kita korbankan, seberapa besar perjuangan yang harus kita keluarkan dalam mendapatkan itu semua. Karena itu semua tidaklah gratis, tidak semudah kita dalam membalikkan telapak tangan kita. Dan ... kita tidak peduli.
Begitukah hidup ini?
Itu hanya satu contoh kasus didalam hidup ini, masih banyak contoh kasus hidup lainnya. Benar, ini tidak berlaku untuk setiap manusia yang ada dibumi ini, ada sebagian orang demikian, ada sebagian yang lain tidak demikian. Masing-masing dari kita, punya cara tersendiri dalam menjalani kisah hidupnya. Sebagian lainnya lagi mungkin ada yang lebih ekstrim dalam memperjuangkan hidup, ada juga yang biasa-biasa saja. Balik lagi, semua tergantung diri setiap manusia dalam mencapai tujuan hidup sebenarnya di dunia ini.
Toh hidup ini harus dijalani.. dengan cara apa dan bagaimana kita dalam menjalaninya saja? Apapun itu target hidup kamu? Apapun itu mimpi, harapan dan cita-citamu? Seberapa besar target hidup kamu ? Perjuangkanlah.. bekerja lebih keras lagi untuk hidup ini, dengan cara-cara kamu yang halal, dengan segala daya upaya kamu, raihlah mimpimu itu. Berbuatlah sesuatu yang bisa dibanggakan dalam hidupmu, yang patut dibanggakan dan yang bisa bermanfaat bagi sesama.

Karena setiap manusia berhak untuk hidup lebih baik...

Thursday, April 11, 2013

Kesehatan Mental Dalam Islam

Dalam Islam pengembangan kesehatan jiwa terintegrasi dalam
pengembangan pribadi pada umumnya, dalam artian kondisi kejiwaan yang
sehat merupakan hasil sampingan dari kondisi pribadi yang matang secara
emosional, intelektual dan sosial, serta terutama matang pula ketuhanan dan
ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan demikian dalam Islam dinyatakan betapa pentingnya
pengembangan pribadi-pribadi meraih kualitas “insan paripurna”, yang
otaknya sarat dengan ilmu yang bermanfaat, bersemayam dalam kalbunya
iman dan taqwa kepada Tuhan. Sikap dan tingkah lakunya benar-benar
merefleksikan nilai-nilai keislaman yang mantap dan teguh. Otaknya terpuji
dan bimbingannya terhadap masyarakat membuahkan ketuhanan, rasa
kesatuan, kemandirian, semangat kerja tinggi, kedamaian dan kasih sayang.
Kesan demikian pasti jiwanya pun sehat. Suatu tipe manusia ideal dengan
kualitas-kualitasnya mungkin sulit dicapai. Tetapi dapat dihampiri melalui
berbagai upaya yang dilakukan secara sadar, aktif dan terencana sesuai dengan
prinsip yang terungkap dalam firman Allah SWT (QS. Ar-Ra’du ayat 11)
Artinya : “ Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum sehingga
mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri”.31
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam mengakui kebebasan berkehendak
dan menghargai pilihan pribadi untuk menentukan apa yang terbaik baginya.
Dalam hal ini manusia diberi kebebasan untuk secara sadar aktif melakukan
lebih dahulu segala upaya untuk meningkatkan diri dan merubah nasib sendiri
dan barulah setelah itu hidayah Allah akan tercurah padanya.
Sudah tentu upaya-upaya dapat meraih hidayah Allah SWT itu harus
sesuai dan berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Selain itu dalam Islam
kebebasan bukan merupakan kebebasan tak terbatas, karena niat, tujuan, dan
cara-caranya harus selalu sesuai dengan nilai-nilai agama dan norma-norma
yang berlaku.

Thursday, February 14, 2013

Pengalaman masa kecil,akan berpengaruh di saat dewasa


Ada banyak jenis ketakutan yang muncul saat seseorang akan melakukan pesentasi atau berbicara didepan banyak orang. Pada umumnya ketakutan ini diakibatkan oleh pengalaman yang buruk dimasa lalu.Pengalaman itu sangat berkesan bagi orang tersebut sehingga terbawa hingga kehidupannya masa kini.Biasanya pengalaman – pengalaman buruk tersebut menjadi salah satu penghambat seseorang untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik, dan salah satunya dalam hal berbicara didepan banyak orang.
Sebelum membahas lebih jauh mengenai beberapa ketakutan yang biasanya timbul, perlu juga diketahui faktor yang menyebabkan timbulnya ketakutan ini. Karena ketakutan itu didapat dari pengalaman buruk masa lalu, seperti yang disebutkan di atas, maka yang perlu kita ketahui adalah dari mana sajakah pengalaman yang dimaksud tersebut? Siapa sajakah yang peling berpengaruh menyebabkan hal ini?
Faktor yang pertama paling kuat pengaruhnya adalah orang tua. Semenjak dari kecil setiap perkataan yang kurang tepat dan perlakuan yang kasar akan menyebabkan seorang anak memiliki pengalaman buruk. Pernyataan yang membatasi, menghina, mengkerdilkan, menyepelekan, membanding-bandingkan akan menjadi "rem" yang menghambat kemajuan anak setelah dewasa. Citra diri yang kurang baik, akan membuat seseorang tanpa sadar merasa tidak layak dan dipenuhi ketakutan untuk sekedar berbicara didepan orang lain. Hal ini muncul dalam perilaku gerak gerik, bahkan hingga respon tubuh kita seperti keringat berlebihan hingga gemetaran. Jika ingin maju kita harus bijak menyikapi hal ini, dengan tidak mempersalahkan masa lalu atau orang tua kita, karena mereka telah berjasa dan begitu mencintai kita walau terkadang caranya tidak selalu tepat.
Mengambil keputusan untuk mau maju dan berubah adalah hal terbaik yang dapat dilakukan, tentunya harus diawali dengan hati yang terbuka, memaafkan, dan mengasihi orang tua kita.Benar sekali !Anda harus berani mengambil keputusan dan melepaskan beban tersebut dengan sikap menerima dan memaafkan. Maknailah kembali hidup anda Dimasa lalu, bahwa apa yang terjadi adalah karena orang tua anda tidak tahu caranya. Ingat dan kenanglah hal-hal positif yang dilakukan orang tua, karena akan membuat hidup anda semakin bermakna. Pribadi yang tidak lagi dihantui pengalaman masa lalu akan tampil dengan lebih percaya diri dan terbuka, disinilah karisma yang sesungguhnya akan mulai muncul. Pastikan juga untuk berlatih dengan metode yang benar.
Faktor kedua yang juga berpengaruh adalah dari saudara kandung atau orang yang serumah selain orang tua. Faktor ketiga adalah orang-orang diluar rumah, mulai dari sanak saudara, teman, guru, pemuka agama dan lingkungan sekitar. Faktor-faktor kedua dan ketiga biasanya jauh lebih mudah dibereskan ketika kita sudah mengatasi faktor yang pertama.
Saran saya ikutilah pelatihan presentation skill yang menyertakan aspek-aspek diatas, agar anda dibimbing dengan langkah-langkah yang benar. Mempelajari banyak teknik tanpa menghilangkan hambatan yang dimiliki adalah pembelajaran yang tidak maksimal.
Sukses untuk Anda!

Sunday, January 13, 2013

MEMECAKAN MASALAH DALAM PEKERJAAN

Hidup itu mencari dan memecahkan masalah, demikian orang bijak berkata. Ini karena dalam setiap kehidupan pasti menghadapi ada masalah, namun bagaimana kita bisa memecahkan masalah itu dengan arif, efektjf dan efisien?


Setiap pekerjaan baik di sektor pemerintahan, swasta maupun lainnya, selalu dihadapkan pada suatu masalah, baik besar atau kecil, ringan atau berat dan sulit maupun mudah. Hal ini perlu dipikirkan adalah bagaimana cara pemecahan masalah. Cara mengatasi masalah harus dilakukan sebaik mungkin, dengan membuat keputusan - keputusan. Bagi Pejabat/ Pimpinan, masalah yang dihadapi dan yang ingin akan dipecahkan semakin kompleks, karena selain ia sebagai pribadi yang mempunyai masalah pribadi, iapun mempunyai masalah kelompok yang ia pimpin. Kedua hal tersebut harus dipecahkan secara arif mungkin. Seorang pimpinan/pejabat yang efisien, tidak akan menunda-nunda untuk mengatasinya. Untuk membuat keputusan seketika ia harus mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalahnya dengan baik dan benar. Kemampuan untuk memecahkan masalah tersebut sebenarnya dapat dipelajari selain belajar dan pengalaman. Menurut Dwight E Watkins dalam buku Efektif Thinking, cara memecahkan masalah terdiri 5 langkah sebagai berikut:

1.    Mempelajari masalah, dengan mengidentifikasi kesulitan-kesulitannya.
Seperti kita ketahui setiap kesulitan dapat menimbulkan masalah. Karena itu perlu diidentifikasi kesulitan-kesulitan tersebut.
2.    Merumuskan masalah secara baik dan benar.
Pada taraf ini hendaknya dicari dan ditentukan secara jelas apakah sebenarnya kesulitan yang menimbulkan masalah ini.
3.    Mencari cara pemecahannya.
Dalam hal ini ia harus mampu mencari cara-cara pemecahannya, dengan menggunakan pikirannya untuk menemukan berbagai kemungkinan yang dapat menyelesaikan kesulitan ini.
4.    Memilih salah satu cara yang terbaik diantara berbagi kemungkinan.
Dalam memilih hendaknya dipertimbangkan hal-hal yang berhubungan dengan kesanggupan untuk melaksanakan cara pemecahan yang di pilih.
5.    Melaksanakan cara pemecahan masalah yang telah ditentukan.
Jangan bertindak salah dalam pelaksanaannya dan pilih altenatif terbaik pemecahannya Bila hal ini terjadi maka sia-sialah anda karena bekerja tidak efisien. Bila cara pemecahan ini tidak memberikan hasil, cari alternatif lain.

Cara untuk menentukan alternatif pemecahan masalah, menurut Alex F. Osborn dalam buku Aplied Imagination, dapat dilaksanakan dengan menjawab pokok pertanyaan sebagai berikut :
1.    Dapatkah sesuatu hal, alat atau buah pikiran itu dipergunakan untuk kegunaan lainnya?
2.    Dapatkah diadakan penyesuaian terhadap sesuatu hal atau buah pikiran?
3.    Dapatkah sesuatu hal itu diubah?
4.    Dapatkah hal itu ditambah?
5.    Dapatkah hal itu dikurangi?
6.    Dapatkah diganti?
7.    Dapatkah sesuatu itu diatur kembali?
8.    Dapatkah hal itu dibalik ?
9.    Dapatkah sesuatu itu digabung?
Jawaban pertanyaan tersebut disesuaikan dengan permasalahan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
Namun dalam kenyataannya temyata tidak semua masalah dalam pekerjaan dapat dipecahkan dengan pertanyaan Osbom. Karena itu dapat dicari dan dipergunakan cara-cara lain. Alternatif lain menurut Osbom adalah sebagai berikut:

1.    Bila masalah banyak seginya, hendaklah dipecah menjadi persoalan - persoalan yang lebih kecil. Untuk memecahkan urutan tersebut harus berdasar:
a. Menurut urutan waktu dan hal dalam masalah tersebut
b. Menurut urutan pentingnya sesuatu hal
c. Menurut urutan bergantungnya sesuatu hal pada hal lainnya.
Setelah beberapa persoalan yang lebih sederhana disusun urutannya, baru dipecahkan satu persatu sesuai urutannya. Dalam beberapa hal, cara pemecahan yang kecil-kecil itu perlu diolah kembali sehingga menjadi kebulatan yang sempurna.

2.    Dalam mempelajari masalah jangan hanya memperhatikan hal-hal yang tampak penting saja.
Hendaknya dicari juga jawaban yang tampak remeh atau tidak menonjol yang ada kaitannya dengan pokok persoalan. Orang yang gemar memecahkan problem kebanyakan melakukan pada yang kelihatannya tidak penting.

3.    Jangan menyampingkan cara-cara pemecahan yang tidak masuk akal yang muncul dalam pikiran kita.
Banyak masalah yang mempunyai corak istimewa yang hanya bisa diselesaikan dengan cara-cara ganjil. Karena itu dalam mencari pemecahan bagi masalah yang sudah lama belum terpecahkan, hendaknya dipikirkan juga kemungkinan yang tidak lazim dilakukan.

4.    Bacalah buku-buku untuk mendapatkan bahan-bahan pemikiran atau cara-cara pemecahan masalah.
5.    Diskusikanlah masalah itu dengan orang-orang lain, misalnya kepada teman sejawat atau kepada bawahan.
Mungkin saja orang lain tidak dapat memecahkannya, namun barangkali mereka dapat mengemukakan hal-hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan lebih lanjut.

6.    Apabila semua ajalan tersebut sudah ditempuh tetapi belum memberikan hasil, mintalah petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Mengetahui.
Sebagai umat beragama, bila kita menghadapi masalah yang terlalu sulit, mintalah petunjuk kepadaNya.Meminta bantuan pikiran bawah sadar
Caranya masalah itu ditulis. Semua pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab hendaknya dicatat. Demikian pula segi-segi lainnya dari masalah yang ditulis tersebut. Kalau ada pertimbangan-pertimbangan yang pro dan kontra tentang hal itu, hendaklah dirinci dalam dua kolom. Setelah itu jangan dipikirkan lagi masalah tersebut. Sebaiknya istirahatlah dengan tenang, bersenang-senang atau melakukan hal lainnya yang memungkinkan otak dapat beristirahat. Tampaknya otak tersebut tidak lagi bekerja giat, tetapi secara tidak disadari pikiran itu bekerja terus. lnilah yang dimaksudkan dengan memakai pikiran bawah sadar. Apabila waktunya sudah datang, sekonyong-konyong jawaban atas masalah itu akan muncul dalam pikiran. Pemecahan masalah dengan cara ini tidak dapat ditentukan jangka waktunya. Bekerjanya pikiran dibawah sadar kadang - kadang lambat, lama dan kadang dapat berlaku hanya sebentar.
Dalam membuat keputusan dalam pemecahan masalah, menurut Fulmer, (1994) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

l. Membuat keputusan hendaklah berdasarkan keterangan yang nyata.
Jangan lah kenyataan ini diputarbalikan. Bila keterangan yang nyata itu telah jelas, cepatlah buat keputusan.

2. Pertimbangkan semua perasaan
Ketika akan membuat keputusan sekecil apapun, hendaklah mempertimbangkan segi positif dan negatifnya. Keputusan yang penting yang terjadi dalam hidup kita, dapat dikendalikan oleh kebutuhan-kebutuhan yang paling dalam dari sifat-sifat kita.

3. Pertimbangkan memilih waktu secara bijaksana
Memilih waktu yang tepat, sangat menentukan keberhasilan dalam menentukan keputusan. Pemilihan waktu yang tepat dapat mengendalikan kapan boleh membuat keputusan dan kapan pula tidak membuat keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seseorang dalam keadan kalut cenderung membuat keputusan yang salah. Karena itu janganlah membuat keputusan di saat kalut, sedih, murung, gelisah atau marah. Sebaiknya buatlah keputusan dalam keadaan yang cerah, gembira, riang atau senang.

4.  Janganlah membuat kesimpulan terlalu banyak.
Dalam membuat kesimpulan batasi kepada hal-hal yang penting dan yang paling menonjol.
5 . Komunikasikan keputusan yang dibuat ke segala saluran.
Kecakapan berkomunikasi memainkan peranan yang penting didalam membuat keputusan. Semua pendapat, konsepsi atau pesan hendaknya disampaikan secara jelas di antara orang-orang yang terlibat dalam mengatasi masalah. Termasuk didalamnya orang-orang yang mencari informasi, pembuat keputusan itu sendiri atau orang-orang yang akan menjalankan keputusan tersebut.

6.    Buatlah keputusan secara fleksibel.
Janganlah membuat keputusan yang terlalu kaku sehingga kemungkinan penyesuaian pada keadaan atau perkembangan keadaan menjadi sulit. Roosevelt seorang ahli dalam pengambilan keputusan mengatakan : “Kita harus mengerjakan lebih baik apa yang kita ketahui sekarang, jika sesuatu hal tidak dapat dicari jalan keluarnya, maka kita akan menyesuaikannnya sambil berjalan”.Ikutilah secara terus menerus keputusan yang telah dibuat.
7. Jika anda tidak mau gagal dalam melaksanakan keputusan, maka lakukan persiapan. Demikian juga agar keputusan yang telah diambil tidak gagal pelaksanaannya, maka persiapan harus dilakukan dengan memonitor atau mengikuti secara terus menerus perkembangannya.
8. Punyailah keberanian.
Setelah semua langkah untuk mengatasi kesulitan telah dilakukan, maka tantangan-tantangan pasti akan muncul. Maka disinilah diperlukan adanya keberanian untuk menghadapinya. Apalagi bila keputusan yang dibuat sebagian besar banyak yang menentangnya. Suara mayoritas memberikan ketidak setujuannya. Rosevelt mengatakan: ‘Seseorang dengan keberanian akan membuatnya menjadi mayoritas”. Ini berarti bahwa berbekal keberanian yang dipunyai oleh seseorang, maka ia akan mampu menguasai dan mendapat dukungan mayoritas.

Friday, May 25, 2012

BEBERAPA RACUN PSIKOLOG DALAM DIRI

http://images.detik.com/content/2009/08/07/766/malas-sex-(teamsugar)-depan.jpg


  • Racun pertama : Menghindar
    Gejalanya lari dari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.
    Antibodinya realitas
    Caranya berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.

  • Racun kedua : Ketakutan
    Gejalanya tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, konflik perkimpoian, kesulitan seksual.
    Antibodinya keberanian
    Caranya hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Kebenarian merupakan  proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau psikolog.
    http://woxuedao.files.wordpress.com/2009/05/motivation.jpg
  • Racun ketiga : Egoistis
    Gejalanya nyiyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.
    Antibodinya bersikap sosial.
    Caranya jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akan diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui orang yang tidak mengharapkan apapun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.

  • Racun keempat : Stagnasi
    Gejalanya berhenti satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.
    Antibodinya ambisi
    Caranya teruslah bertumbuh, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. Kita akan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.

  • Racun kelima : Rasa rendah diri
    Gejalanya kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.
    Antibodinya keyakinan diri.
    Caranya seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang yakin dirinya aka kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.

  • Racun keenam : Narsistik
    Gejalanya kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.
    Antibodinya rendah hati.
    Caranya orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan bahagia. Hindari sikap sok tahu. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.

  • Racun ketujuh : Mengasihani diri
    Gejalanya kebiasaan menarik perhatian, suasana yang dominan, murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di dunia.
    Antibodinya sublimasi
    Caranya jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimentil dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain.
  • Racun kedelapan : Sikap bermalas-malasan
    Gejalanya apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.
    Antibodinya kerja
    Caranya buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.

  • Racun kesembilan : Sikap tidak toleran
    Gejalanya pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.
    Antibodinya kontrol diri
    Caranya tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman kultur dan agama.

  • Racun kesepuluh : Kebencian
    Gejalanya keinginan balas dendam, kejam, bengis.
    Antibodinya cinta kasih
    Caranya hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.
Simpanlah paket tiket untuk perasaan tidak bahagia dan mengaculah pada paket tiket ini saat kita sedang mengalami rasa depresi dan tidak bahagia. Gunakan sebagai sarana pertolongan pertama dalam kondisi mental gawat darurat demi terhindar dari ketidakbahagiaan berlanjut pada masa mendatang.

Saturday, March 10, 2012

Tips Sukses Jalani Wawancara Kerja

Dari seluruh tahapan proses melamar kerja, mungkin sesi wawancara adalah sesi yang paling sangat membuat panik dan gelisah bagi para calon pekerja. Karena dalam sesi ini, ditentukan apakah pelamar akan diterima bekerja atau tidak. Dan bukan sebuah jaminan, jika seseorang yang memiliki nilai tinggi dalam pendidikannya dapat dengan mudah melewati sesi wawancara ini.

Untuk sukses menjalani sesi wawancara memang dibutuhkan kiat khusus bagi si pelamar. Pertama, persiapkan sejumlah bahan yang sekiranya akan ditanyakan dalam wawancara. Yang biasanya menjadi bahan wawancara, meliputi latar belakang pendidikan anda, minat, hubungan keluarga dan impian anda di masa depan.
Selanjutnya, persiapkan mental dengan baik. Bagaimana anda dapat tampil senyaman mungkin ketika diwawancara. Upayakan untuk menghilangkan rasa gugup kala menjawab pertanyaan yang dilontarkan pewawancara. Untuk menenangkan perasaan panik ketika diwawancara, alangkah baiknya dan menarik nafas panjang dan membuat rileks tubuh anda sebelum nama anda dipanggil.

Yang ketiga, usahakan anda dapat menjawab pertanyaan dengan suara yang jelas dan tegas. Selain itu, jaga sikap dan perilaku anda saat menjalani wawacara. Karena dua hal tersebut juga menjadi bahan penilaian bagi pewawancara. Sebab perilaku yang anda tampilkan tentu akan mencerminkan sikap anda saat diterima bekerja.

Monday, February 6, 2012

MENILAI DIRI DARI APA YANG PERNAH KITA LAKUKAN


“Masalah, beban,cobaan serta penat semua yang menghadang bahkan duri yang menusuk seorang  muslim saya yakin hal itu bakal mendapatkan balasan dan hikmah tersendiri.” 
Saya mungkin bahkan kalian pasti kepingin tangguh dalam setiap masalah dan beban yang menghadang disituasi yang memang harus menyuruh kita untuk tangguh, namun sering kita terjebak dan akhirnya mengandalkan emosi untuk meposisikan diri dipihak yang serba sulit.
Sebenarnya apa sih yang kita lihat dari ketangguhan seseorang? Apakah kita lihat ia begitu cerdas menghadapi setiap permasalahan? Atau Apakah ia orang yang fight yang selama ini memang memiliki iner power?.
Bagi saya orang yang tangguh itu:
“orang yang bisa memposisikan dirinya dalam lingkungannya, tak peduli semua masalah, hambatan  bahkan ancaman yang terus mengintai ia, asalkan ia berada pada jalur kebenaran”
Untuk menjadi tangguh itupun tidak mudah, kita perlu pengalaman, perlu kekuatan dan juga perlu yang namanya kesabaran. Kita ngak bisa lepas dari poin tersebut. Kalo salah satu poin tersebut hilang kita masih diragukan sebagai orang yang tangguh.
Sulit ya??? Lalu siapa yang menilai ketangguhan kita?? Yang jelas jawabannya bukan diri sendiri. Kalo kita umpamakan kita bercermin, maka baiknya kita berkaca pada orang lain, menurut saya itu yang tepat karena kita bisa ibaratkan kaca adalah cerminan  yang memantul pada diri kita. Begitupun dengan rasa tangguh yang dimiliki oleh seseorang, bukan kita yang bisa menerka-nerka atau menilainya tapi oranglain.
Disamping itu ada satu hal lagi yang paling mengetahui sisi ketangguhan kita yaitu Tuhan. Cuma tuhan yang bisa menilai, kalau manusia pasti punya salah, puya kekurangan, dan punya sifat lalai. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki intuisi kepekaan yang berbeda namun berbeda dengan  sifat yag dimiliki Tuhan,yaitu adil dan serba mengetahui.
Bagi saya pribadi ketangguhan seseorang adalah sebuah proses yang harus dinikmati, kita tidak akan memiliki sifat tangguh tanpa adanya proses yang panjang sehingga akhirnya kita menjadi manusia yang tanguh. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik???. Balik lagi dari semua pengalaman yang ada, alangkah baiknya jika semua itu bisa kita jadikan sebagai pembelajaran yang baik untuk langkah kita selanjutnya.
Untuk memposisikan dimana letak ketangguhan kita, alangkah baiknya cukup kita saja yang bisa menjawabnya, tidak perlu menilai diri kita layak atau tidak layak menjadi seorang yang tangguh dalam menghadapi situasi tersulit. Karena setiap cobaan yang selalu kita hadapi, disuatu saat pasti ada cobaan yang lebih sulit lagi. Karena alam mengajarkan kita untuk tetap memetik hikmah dari apa yang terjadi.
Salam semangat ...buat ketangguhan kalian hari ini dan esok....:)
 
Copyright © 2013 CAK YITNO
Design by FBTemplates | BTT