BREAKING

Saturday, February 4, 2012

BERJUANG DEMI AGAMA

Yang mengagumkan dari perjuangan sebenarnya bukan terletak pada hasil yang dicapai, tetapi bagaimana proses dalam mencapai hasil tersebut. Karena sejatinya tujuan akan dapat diraih bila tujuan tersebut diniatkan dengan niat yang tulus dan diupayakan sekuat tenaga dengan semangat membara, pantang menyerah, dan jauh dari berkelu kesah. Bukan saatnya berhenti di tengah jalan, yang ada hanyalah rehat sejenak untuk mengatur dan menyusun strategi kembali.

Pejuang dakwah akan berhenti dari perjuangannya ketika tidak ada yang bisa ia berikan untuk dakwah itu sendiri. Dalam arti kata, ia berhenti ketika nyawa berpisah dari jasatnya, jantung tak lagi berdetak, nadi tak lagi berdenyut, darah tak lagi mengalir, jika semua itu belum ia rasakan maka kakinya akan terus melangkah, peluh akan terus ia keluarkan, bahkan darah pun siap ia alirkan dijalan Allah.

Para pejuang dakwah akan senantiasa mengingat dengan baik apa yang difirmankan Allah “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujarat: 15).

Semakin mereka jauh melangkah di jalan dakwah maka semakin teguh semangat mereka. Membuang jauh-jauh rasa ragu demi sebuah kemuliaan yang lebih baik dari dunia dan isinya. Dan tak menyesal ketika mereka harus mengeluarkan harta atau bahkan jiwa mereka sendiri. Karena kebahagiaan bagi mereka adalah ketika bisa memberikan apa yang mereka miliki untuk Allah. Dan bagi mereka berjuang dijalan Allah merupakan sesuatu hal yang agung. Bagaimana tidak? Karena Rasulullah pernah bersabda dari Abu Zar r.a., katanya: "Saya berkata: "Ya Rasulullah, amalan apakah yang lebih utama?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu beriman kepada Allah dan berjihad fi-sabilillah." (Muttafaq'alaih).

Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w., lalu berkata: "Manusia manakah yang lebih utama?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu orang mu'min yang berjihad fi-sabilillah dengan diri dan hartanya…..” (Muttafaq 'alaih).

Sehingga wajar, ketika berbagai peperangan muncul sebagai akibat penentangan terhadap interfensi kaum kafir agar dakwah ini dihentikan. Banyak kaum muslim yang mempersiapkan diri dan hartanya tanpa kenal takut apalagi mundur kebelakang bersiap siaga dibarisan perjuangan di jalan Allah. Bisa dipahami, karena tujuan mereka jelas. Mereka mengharapkan dua berkah dari Allah “Mati syahid atau hidup mulia” sebuah afirmasi yang tak ada tandingannya dalam memompa semangat kaum muslim dalam setiap peperangan. Ditambah setiap teriakan takbir yang secara nyata menambah daya dorong untuk terus berjuang sekaligus menghembuskan rasa takut bagi para penentang dakwah.

Maka karena inilah dakwah mengembangkan sayapnya. Menghujamkan semangat dan perbaikan dalam satu waktu. Mempersiapkan diri untuk dakwah sekaligus mempersiapkan amal sebagai bekal untuk menemui Rabbnya.

Jangan heran jika Allah menghadiahkan Islam generasi sahabat, tabi’in dan tabit tabi’in adalah generasi terbaik sepanjang masa. Karena dalam zaman ini mereka punya ghirah yang luar biasa terhadap kemuliaan Islam dibanding ghirah generasi-generasi selanjutnya. Di zaman itu, kaum muslim meletakkan dasar-dasar Islam di dada mereka sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh karena mereka percaya hanya Islamlah yang mampu memberikan ketenangan nyata. Berbeda dengan zaman setelahnya, hukum berdiri di atas pemikiran manusia yang dangkal. Nilai-nilai sosial berdiri di atas konsep yang sewaktu-waktu dapat berubah sesuai perkembangan zaman. Tidak berdasar dan tidak punya hukum tetap.

Di atas kezaliman dan kejahiliaanlah sejatinya dakwah berkembang. Rasulullah diutus ketika manusia memiliki mental bobrok dan moral yang sakit. Namun, perlahan tapi pasti dakwah akhirnya mengubah kondisi menjadi lebih baik. Disaat ini ketika masalah kebobrokan mental dan degradasi moral kembali terulang. Seharusnya banyak ummat yang kembali meluruskan dan meneruskan perjuangan yang pernah disusun rapi oleh Rasulullah agar kembali berada di lurusnya jalan.

Namun perjuangan akan selalu menemui dinamikanya sendiri. Ada yang menjalankannya dengan tulus namun ada juga yang karena sebuah kepentingan. Ada yang bertahan dengan penderitaan dan resiko yang ada. Ada yang setengah-setengah atau bahkan mengundurkan diri dari jalan dakwah ini. Itulah dinamika yang senantiasa mewarnai perjuangan dakwah sesungguhnya.

Tapi percayalah, Allah telah menyiapkan generasi yang setiap saat akan setia berada di jalur dakwah yang dengan sekuat tenaga akan memperbaiki kondisi ummat menjadi lebih baik. Mereka berjuang dengan tangan mereka, dengan lisan mereka dan dengan tulisan-tulisan mereka. Akankah kita menjadi bagian dari barisan perjuangan itu saudaraku???? Jawabannya sederhana, sekuat apakah kita berharap dan mampu berada di jalan itu dan sekuat apakah doa kita agar Allah menjadikan diri kita sebagai bagian dari perjuangan menegakkan kembali kemuliaan Islam. Tanyakan itu pada hatimu..!!!!

About ""

Melangkahlah Penuh Semangat dan Rendah Hati. Karena Sesungguhnya Hidup Untuk Memecahkan Masalah.

1 comment:

 
Copyright © 2013 CAK YITNO
Design by FBTemplates | BTT